PENDIDIKAN BERKARAKTER
Sesungguhnya pendidikan berkarakter
merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk
membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan
dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan
kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan
perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat
istiadat.
Pendidikan karakter merupakan hal
yang baru sekarang ini meskipun bukan sesuatu yang baru. Penanaman nilai-nilai
sebagai sebuah karakteristik seseorang sudah berlangsung sejak dahulu kala.
Akan tetapi, seiring dengan perubahan jaman, agaknya menuntut adanya penenaman
kembali nilai-nilai tersebut ke dalam sebuah wadah kegiatan pendidikan di
setiap pengajaran.
Penanaman nilai-nilai tersebut dimasukkan
(embeded) ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran dengan maksud agar dapat
tercapai sebuah karakter yang selama ini semakin memudar.
Setiap mata palajaran mempunyai
nilai-nilai tersendiri yang akan ditanamkan dalam diri anak didik. Hal ini
disebabkan oleh adanya keutamaan fokus dari tiap mapel yang tentunya mempunyai
karakteristik yang berbeda-beda.
Distribusi
penanaman nilai-nilai utama dalam tiap mata pelajaran dapat dilihat sebagai
berikut:
- Pendidikan Agama: Nilai
utama yang ditanamkan antara lain: religius, jujur, santun, disiplin,
tanggung jawab, cinta ilmu, ingin tahu, percaya diri, menghargai
keberagaman, patuh pada aturan, sosial, bergaya hidup sehat, sadar akan
hak dan kewajiban, kerja keras, dan adil.
- Pendidikan Kewargaan Negara:
Nasionalis, patuh pada aturan sosial, demokratis, jujur, mengahrgai
keragaman, sadar akan hak dan kewajiban diri dan orang lain.
- Bahasa Indonesia: Berfikir
logis, kritis, kreatif dan inovatif, percaya diri, bertanggung jawab,
ingin tahu, santun, nasionalis.
- Ilmu Pengetahuan Sosial:
Nasionalis, menghargai keberagaman, berpikir logis, kritis, kreatif, dan
inovatif, peduli sosial dan lingkungan, berjiwa wirausaha, jujur, kerja
keras.
- Ilmu Pengetahuan Alam: Ingin
tahu, berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, jujur, bergaya hidup
sehat, percaya diri, menghargai keberagaman, disiplin, mandiri,
bertanggung jawab, peduli lingkungan, cinta ilmu
- Bahasa Inggris: Menghargai
keberagaman, santun, percaya diri, mandiri, bekerja sama, patuh pada
aturan sosial
- Seni Budaya: Menghargai
keberagaman, nasionalis, dan menghargai karya orang lain, ingin, jujur,
disiplin, demokratis
- Penjasorkes: Bergaya hidup
sehat, kerja keras, disiplin, jujur, percaya diri, mandiri, mengahrgai
karya dan prestasi orang lain
- TIK/Ketrampilan: Berpikir
logis, kritis, kreatif, dan inovatif, mandiri, bertanggung jawab, dan
menghargai karya orang lain.
- Muatan Lokal: Menghargai
kebersamaan, menghargai karya orang lain, nasional, peduli.
Bagaimana kesemuanya diaplikasikan? Setiap
nilai utama tersebut dapat dimasukkan ke dalam pembelajaran mulai dari kegiatan
eksplorasi, elaborasi, sampai dengan konfirmasi.
Bagian
pertama adalah Eksplorasi, antara lain dengan cara:
- Melibatkan peserta didik
mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang
dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar
dari aneka sumber (contoh nilai yang ditanamkan: mandiri, berfikir logis,
kreatif, kerjasama)
- Menggunakan beragam pendekatan
pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain (contoh nilai
yang ditanamkan: kreatif, kerja keras)
- Memfasilitasi terjadinya
interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan,
dan sumber belajar lainnya (contoh nilai yang ditanamkan: kerjasama,
saling menghargai, peduli lingkungan)
- Melibatkan peserta didik secara
aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran (contoh nilai yang ditanamkan:
rasa percaya diri, mandiri)
- Memfasilitasi peserta didik
melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan (contoh nilai
yang ditanamkan: mandiri, kerjasama, kerja keras)
Bagian
kedua adalah Elaborasi, nilai-nilai yang dapat ditanamkan antara lain:
- Membiasakan peserta didik
membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang
bermakna (contoh nilai yang ditanamkan: cinta ilmu, kreatif, logis)
- Memfasilitasi peserta didik
melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan
baru baik secara lisan maupun tertulis (contoh nilai yang ditanamkan:
kreatif, percaya diri, kritis, saling menghargai, santun)
- Memberi kesempatan untuk
berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa
takut (contoh nilai yang ditanamkan: kreatif, percaya diri, kritis)
- Memfasilitasi peserta didik
dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif (contoh nilai yang
ditanamkan: kerjasama, saling menghargai, tanggung jawab)
- Memfasilitasi peserta didik
berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar (contoh
nilai yang ditanamkan: jujur, disiplin, kerja keras, menghargai)
- Memfasilitasi peserta didik
membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis,
secara individual maupun kelompok (contoh nilai yang ditanamkan: jujur,
bertanggung jawab, percaya diri, saling menghargai, mandiri, kerjasama)
- Memfasilitasi peserta didik
untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok (contoh nilai yang
ditanamkan: percaya diri, saling menghargai, mandiri, kerjasama)
- Memfasilitasi peserta didik
melakukan pameran, turnamen, festival, serta produk yang dihasilkan
(contoh nilai yang ditanamkan: percaya diri, saling menghargai, mandiri,
kerjasama)
- Memfasilitasi peserta didik
melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri
peserta didik (contoh nilai yang ditanamkan: percaya diri, saling
menghargai, mandiri, kerjasama)
Dan
bagian ketiga adalah konfirmasi, nilai-nilainya antara lain:
- Memberikan umpan balik positif
dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap
keberhasilan peserta didik (contoh nilai yang ditanamkan: saling
menghargai, percaya diri, santun, kritis, logis)
- Memberikan konfirmasi terhadap
hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber
(contoh nilai yang ditanamkan: percaya diri, logis, kritis)
- Memfasilitasi peserta didik
melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah
dilakukan (contoh nilai yang ditanamkan: memahami kelebihan dan
kekurangan)
- Memfasilitasi peserta didik
untuk lebih jauh/dalam/luas memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan
sikap, antara lain dengan guru:
- Berfungsi sebagai narasumber
dan fasilitator dalam menjawab pertanyaan peserta didik yang menghadapi
kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku dan benar (contoh nilai
yang ditanamkan: peduli, santun);
- membantu menyelesaikan masalah
(contoh nilai yang ditanamkan: peduli);
- Memberi acuan agar peserta
didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi (contoh nilai yang
ditanamkan: kritis)
- Memberi informasi untuk
bereksplorasi lebih jauh (contoh nilai yang ditanamkan: cinta ilmu); dan
- Memberikan motivasi kepada
peserta didik yang kurang atau belum berpartisipasi aktif (contoh nilai
yang ditanamkan: peduli, percaya diri).
Penanaman nilai inilah yang nantinya
diharapkan akan menjadikan peserta didik menjadi lebih berkarakter.
Cara Menyusun dan
Membuat Silabus Dengan Pendidikan Berkarakter.
Bagi guru pemula bahkan mungkin mahasiswa keguruan, menyusun silabus adalah hal
baru yang sangat sulit untuk dibayangkan wujudnya. Pada materi kuliah untuk
pengembangan kurikulum, pastilah diberi materi tentang menyusun silabus. Akan
tetapi, tidak sedikit yang mengalami kesulitan pada waktu menyusunnya agar
sesuai dengan kebutuhan kurikulum sekarang ini, yaitu kurikulum
KTSP atau kurikulum 2006.
KTSP atau kurikulum 2006.
Sebenarnya apakah yang dimaksud dengan silabus? Agar lebih mudah untuk
mendapatkan gambaran tentang silabus, Kenneth Croft (1980) mengadopsi pendapat
dari makalah milik McKay tentang silabus. McKay menyatakan bahwa “….a
syllabus provides a focus for what should be studied, a long with a rasionale
for how the content should be selected and ordered.” Dengan kata lain,
sebuah silabus memberikan fokus mengenai apa yang harus dipelajari, serta
penjelasan mengenai bagaimana konten harus dipilih dan disusun.
Jadi apabila seorang pengajar akan memberikan materi pembelajaran atau
melaksanakan kegiatan belajar mengajar, maka harus mempersiapkan silabus agar
dapat memberikan alur yang jelas dan pasti bagi peserta didik tentang
materi yang diberikan beserta kemampuan yang harus dicapai.
Permendiknas RI Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses menyatakan bahwa
silabus sebagai acuan pengembangan RPP memuat identitas mata pelajaran, standar
kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), materi pembelajaran/tema pembelajaran,
indikator pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.
Perkembangan silabus yang baru, harus memasukkan unsur pendidikan karakter di
dalamnya, serta direncanakan untuk dimasukkan sebagai nilai-nilai perilaku yang
harus ditanamkan kepada siswa. Mengapa nilai-nilai perilaku? Karena karakter
sendiri berarti nilai-nilai yang melandasi perilaku manusia berdasarkan norma
agama, kebudayaan, hukum/konstitusi, adat istiadat, dan estetika. Menurut
Koesoema (2007) dalam bukunya yang berjudul “Pendidikan Karakter”, memberikan gambaran tentang karakter sebagai
berikut:
“Disini, istilah karakter
dianggap sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ciri atau
karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari
bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa
kecil, dan juga bawaan seseorang sejak lahir.”
Pendidikan karakter berarti suatu sistem penanaman nilai-nilai perilaku
(karakter) kepada warga sekolah meliputi pengetahuan, kesadaran atau kemauan,
dan tindakan melaksanakan nilai-nilai, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri
sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga manjadi insan kamil
(sempurna). Kaitannya dengan penyusunan silabus, pendidikan karakter atau
penanaman nilai-nilai tersebut semakin diperjelas dalam bagian isi silabus.
Seperti yang telah diungkapkan oleh Koesoema tentang makna karakter yang
dianggap sama dengan kepribadian, maka pendidikan karakter hampir sama pula
dengan mengajarkan kepribadian.
Langkah-langkah
menyusun silabus adalah sebagai berikut:
1.
Petakan Standar Kompetensi (SK)
dan Kompetensi Dasar (KD)
2.
Pilihlah dan tentukan materi pembelajaran yang
sesuai dengan kompetensi dasar dengan mengacu atau menggunakan sumber
belajar
3.
Merancang kegiatan pembelajaran dengan
mengggunakan metode pembelajaran yang sudah banyak digunakan. Buatlah kegiatan
pembelajaran tersebut semenarik mungkin dan dapat memotivasi siswa untuk siap
belajar.
4.
Tentukan indikator pencapaian agar lebih mudah
merancang penilaiannya.
5.
Susunlah penilaian dengan menyertakan teknik
yang digunakan, bentuk instrumen, dan berikan contoh soal.
6.
Alokasikan waktu kegiatan pembelajaran.
Sesuaikan dengan materi yang akan diberikan.
7.
Masukkan sumber belajar. Sumber belajar dapat berupa
buku yang digunakan, CD, kaset, atau website.
8.
Dan terakhir tentukan nilai karakter apa yang
harus ditanamkan melalui materi yang diberikan tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar